Rose’s Aura 

CHAPTER 1. CENTRE OF PEOPLE’S HATRED

Aku benci tempat ini sejak pertama kali datang. Sejak aku harus dibawa ke rumah sakit karena nyeri pada benjolan di pahaku semakin parah dan membuatku sulit berjalan. Osteosarcoma. Begitulah hasil pemeriksaan biopsi tumor dipahaku. Sudah cukup lama aku menyadari ada benjolan dipahaku tapi tidak aku hiraukan. Saat kini benjolan itu membesar dan semakin sakit, aku baru memeriksakannya. Itupun karena aku hampir pingsan karena sakitnya tak tertahankan. Dokter sekarang memarahiku karena terlambat datang, saat tumor itu sudah mencapai stadium III. Well, sorry I’m late, meskipun aku tidak tahu pada siapa aku harus mengatakan itu. Pada dokter? Pada orangtuaku? Atau pada diriku sendiri? Aku tidak terlalu menyesali kematian yang mengintaiku. Justru aku merasa ada sedikit kelegaan.

Aku merasa lega, sangat miris. Terlihat sedikit murahan, tapi aku berharap mulai ada orang mengasihani aku dan bisa peduli. Ya, aku mengemis perhatian semua orang. Aku besar di lingkungan dengan orang-orang yang menjauhiku bahkan oleh kelurgaku sendiri. Sejak kecil aku selalu sendiri, begitulah yang kuingat. Tidak ada teman atau keluarga yang bersamaku dalam ingatanku. Orangtuaku melengkapi semua kebutuhan finansialku, tapi tidak lebih dari itu. Mom dan Daddy tidak pernah berbicara padaku. Bila mereka sedang asyik mengobrol dan aku ingin ikut bergabung, mereka akan berhenti bicara dan pergi, seperti..menjauhiku. Bahkan terkadang kulihat tatapan benci memancar dari mata mereka. Aku tidak tahu apa salahku hingga semua orang melakukan semua ini. Ini terlalu tidak adil, terlalu tidak dapat kupahami.

Tidak berbeda dengan keluargaku, teman dan tetangga juga menjauhiku, seolah aku membawa penyakit menular. Entah apa alasan mereka, tapi itu membuatku tak pernah memiliki teman seumur hidupku hingga sekarang aku berusia 20 tahun. Pernah suatu ketika aku memberanikan diri untuk ikut bermain dengan teman saat di bangku sekolah dasar. Aku mengatakan akan menjadi teman yang baik dan melakukan apapun yang mereka minta. Mereka diam menatapku lama sekali. Mereka mengijinkanku ikut bergabung kemudian. Menyesal akhirnya, karena aku berakhir terkunci di gudang sekolah hingga menjelang malam. Membuatku tak pernah mau lagi coba-coba mendekati siapapun.

Di luar matahari sudah tidak tampak. Langit telah menyembunyikan mentari dan terganti dengan gelap malam. Hanya sedikit cahaya kecil dari bulan dan bintang-bintang yang kadang tertutup mendung. Malam ini sepi seperti biasanya. Atau begitulah dikamarku. Orang-orang berlalu lalang di depan kamar rawatku, berharap ada salah satu orang yang menuju kesini. Bagai pungguk merindukan bulan, mereka hanya melewati kamarku tanpa menoleh.

Mereka seperti semut. Begitu banyak dan bergerombol. Tidak mempedulikan aku disini. Tapi setidaknya semut tidak  berisik. Tidak seperti sekelompok pengunjung ruang rawat disebelahku. Aku tidak dapat melihat mereka, tapi suara percakapan mereka yang terlalu keras tedengar sampai luar, begitu berisik menggambarkan dengan jelas siapa mereka. Sekelompok anak muda, mungkin seusiaku. Lebih banyak suara laki-laki yang terdengar, suara tinggi, dalam, dan parau. Mengejek laki-laki yang harus opname hanya karena diare. Anak yang lain menambahkan dengan mengejeknya si anak mama. Si pasien dan anak yang lain hanya tawa cekikikan dengan candaan itu. Uhh..! Aku segera mengambil krukku, berdiri, dan berjalan masuk ke dalam kamarku. Menyebalkan sekali mendengarkan semua itu. Tidak bisakah mereka sedikit menghargai pasien lain? Mereka pikir dimana mereka?

Dalam hati aku sadar, mereka hanya membuatku iri. Aku tidak pernah memiliki siapapun disampingku selama ini, tidak keluarga, tidak juga teman, meskipun mereka semua ada. Aku pikir, pasti senang rasanya memiliki sesorang yang menyemangati dan mendoakan kesembuhanku. Pasti senang rasanya memiliki orangtua yang akan mencemaskanku disini. Pasti rasa sakit yang sering muncul itu tidak akan begitu menyakitkan bila ada tangan lain yang menggenggam dan memelukku. Aku harap orang-orang akan mulai memperhatikanku saat tahu kondisiku. Setidaknya Mom dan Daddy akan melakukan itu.

Tapi..tentu saja tidak. Aku tidak mungkin meratapi kesendirianku sekarang bila penyakitku mengubah sikap Mom dan Dad. Mereka sama saja. Raut wajah mereka bahkan tidak terbaca saat pertama kali mendengar penyakitku. Aku tidak tahu apakah mereka sedih atau justru senang mendengar diagnosisku. Aku menghela nafas panjang mengingatnya.

Sedikit berbeda dengan dokter dan perawat yang kutemui disini. Mereka terikat dengan tanggung jawab pekerjaan sehingga bersikap lebih baik padaku, meskipun dengan dipaksakan. Seperti perawat yang kulihat berjalan didepan kamarku dan mengetuk pintu sebelum masuk. Sudah saatnya melakukan pemeriksaan rutin.

Usia perawat itu mungkin sekitar tigapuluhan dan dia tampak cantik. Kulitnya putih bersih, postur tubuhnya ideal, tidak terlalu tinggi, namun tubuhnya berisi dan melekuk indah. Wajahnya berbentuk oval, sebuah lesung pipit yang muncul di  bawah bibirnya saat memaksakan senyum padaku. Lipstick berwarna orange menghiasi bibirnya untuk menampilkan kesan muda. Mata besarnya indah berwarna gelap. Sayangnya memancarkan suram keengganan yang dapat kubaca. Perasaan dia tidak senang saat memasuki kamar rawatku.

          “Selamat malam, Nn. Rosalina Luvigh. Saya Marry akan memeriksa keadaan anda malam ini. Apa ada yang dikeluhkan?” Marry bertanya dengan sigap menandakan keprofesionalannya meskipun tanpa senyuman.

         “Hanya sakit dipahaku saja belum hilang. Aku tidak lagi merasakan sesak” jawabku sambil tersenyum pada Marry.

          “Apa masih bisa ditahan?” lanjut Marry sambil memegang pergelangan tanganku dengan cekatan, menghitung denyut nadiku. Marry sama sekali tidak membalas senyumku dan rasanya dia ingin sekali segera menyelesaikan tugasnya disini.

          “Ya, masih.” Jawabku singkat mengerti keinginannya. Dan, ya, apa yang tidak dapat kutahan dalam hidupku ini?

          “Ada keluhan lain?” Marry kini bertanya dengan semakin enggan.

          “Tidak” jawabku singkat terbawa suasana hatinya.

Marry melanjutkan pemeriksaan vitalku dengan tensi dan termometer. Gerakannya cepat tapi tidak kasar, sangat gentle. Wajahnya datar saat memeriksaku. Namun aku masih bisa merasakan suasana hatinya yang ingin segera ingin menjauh dariku. Semua orang selalu seperti ini bila didekatku. Bisakah aku bertemu satu saja orang di dunia ini yang akan bersikap normal dan baik-baik saja padaku?

          “Kau tahu apa yang harus kau lakukan bila sakitnya tidak kau tahan, bukan? Tekan bel panggilan itu” kata Marry saat menuliskan hasil pemeriksaanku di buku yang dibawanya kemudian pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

Aku sudah terbiasa diperlakukan seperti itu. Tidak perlu bagiku melakukan kesalahan sekecil apapun untuk membuat mereka menjauh. Tubuhku seperti membawa ‘sesuatu’ yang mempengaruhi orang-orang untuk membenciku hanya dengan berada didekatku. Siapapun itu.

Tapi kupikir Tuhan cukup adil dengan memberiku kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Aku bisa gambaran perasaan seseorang dengan sangat baik melalui matanya. Semua hati dan pikirannya seperti tertera di pancaran matanya. Itulah kenapa aku bisa mengatakan dengan pasti sikap orang-orang dengan sangat tepat.

          “Permisi,” sebuah suara mengagetkanku. Seorang laki-laki berjas putih masuk diikuti oleh Marry.

            “Selamat malam Rosalina,” sapa laki-laki sambil tersenyum padaku. Tersenyum! Dia tersenyum padaku! Senyumnya sama sekali tidak dibuat-buat. Aku ternganga melihatnya.

    “Ini dr.Raziel, dokter bedah yang menggantikan dr.Allan,” kata Marry memperkenalkan. Pandanganku masih tidak lepas dari dokter itu.

            “Kenapa dengan dr.Allan?” tanyaku pada Marry. Aku bisa menebak kalau dr.Allan enggan menanganiku. Sudah terlihat dari sikapnya.

Bagaikan bisa membaca pikiranku, dr.Raziel menjawab pertanyaanku diluar ekspektasi.

           “dr.Allan sering keluar kota, jadi lebih baik aku yang menangani agar bisa selalu di follow up. Aku harap kau tidak masalah?” ini pertama kalinya aku menatap dr.Raziel. dan aku terkejut, tak bisa menjawab apapun.

             “Boleh aku memeriksamu?” tanya dr.Raziel lagi.

Aku terpana melihatnya. Bukan karena ketampanannya. Dia tampan kuakui, wajahnya kokoh dengan kulitnya putih bersih dan badannya tegap, tapi bukan itu yang membuatku terpana. Aku baru pertama kali bertemu orang seperti dr.Raziel selama ini. Baru beberapa menit yang lalu aku memohon, dan sekarang permohonanku terkabul. Belum ada semenit dr.Raziel ada dihadapanku, aku dapat melihat jelas kedalam matanya. Tidak ada keterpaksaan sama sekali pada sikapnya. Tidak ada rasa keengganan terhadapku. Sangat berbeda dengan dokter dan perawat lain, apalagi orang-orang lain yang selama ini pernah kutemui.

        “Rose? Boleh aku memanggilmu Rose? Kenapa tidak menjawab? Kau baik-baik saja?” Tanya dr.Raziel lagi sambil melambaikan tangannya didepan mataku.

       “Ya, sure” jawabku cepat sambil tersipu, malu terpergok sedang terpaku menatapnya.

Dr.Raziel tertawa dan mulai memeriksaku. Aku curi-curi kesempatan menatapnya saat dr.Raziel sibuk memeriksa kedua kakiku, mencoba menelusuk lebih dalam, meyakinkanku kembali bahwa sikapnya memang sungguh-sungguh bukan hanya kepura-puraan. Ada rahasia besar yang dia simpan. Aku tak bisa membacanya. Tapi hanya itu yang kutemukan. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana dia sama sekali tidak merasa enggan terhadapku seperti orang lain?

         “Kenapa dokter memanggilku Rose?” aku bertanya saat dr.Raziel masih memeriksa.

         “Kau tidak suka?” jawab dr.Raziel menoleh padaku.

      “Bukan, bukan..aku justru sangat senang. Tidak ada yang pernah memberikanku nama panggilan sebelumnya,” jawabku cepat.

    “Bagus, aku hanya merasa….ingin saja memanggilmu begitu,” katanya sambil melanjutkan pemeriksaan.

         “Dr.Allan sudah menjelaskan berbagai pengobatan yang harus kau jalani?” Tanya dr.Raziel setelah selesai memeriksa.

           “Iya, sudah” jawabku pada dr.Raziel.

        “Juga tentang operasinya?” dr.Raziel bertanya lagi. Nada suaranya masih saja sangat ramah dan hangat.

            “Ya, itu juga sudah,” aku kini menjawab sambil tersenyum.

     “Baiklah kalau begitu, kita lihat perkembanganmu okey? Pastikan juga kau menghabiskan setiap makanmu, berat badanmu turun drastis, jadi harus sebisa mungkin mencukupi gizimu,” sarannya padaku.

            “Akan kucoba dok,” jawabku sambil mengalihkan pandanganku. Aku sudah lama kehilangan selera makanku.

          “Baiklah, cukup itu saja, sekarang berisirahatlah,” kata dr.Raziel kemudian berjalan keluar diikuti Marry.

            Sebelum melangkah keluar pintu, dr.Raziel berhenti sejenak dan berbalik lagi kearahku sambil tersenyum.

         “Aku harap semoga kau cepat sembuh, Rose” kata dr.Raziel. Aku hanya menatapnya lagi sambil melongo tanpa menjawab. Setelah dr.Raziel, aku masih saja melongo menatap pintu dimana tadi dr.Raziel berdiri sebelum pergi.

Sisa malam ini pikiranku terus terbayang dr.Raziel. Dokter itu sungguh peduli padaku. Aku akan sering bertemu dengannya dan aku harap dia akan tetap terus seperti itu. Aku terlelap sambil berangan apakah dr.Raziel hanya sebuah mimpi.

(to be continued…)

Contact me, Lily V’Aquila 🙂

Wattpad : @VAquilalily 

Twitter : @LilyVAquila 

Email : v.aquilalily@gmail.com 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s