Rose’s Aura

CHAPTER 3. WORSENING

Pagi ini adalah pertama kalinya aku tersenyum saat terbangun. Entah yang membuat seperti itu, aku hanya sangat senang saat terbangun. Mr.Rebbito masih disampingku seakan menyambutku pagi ini. Langit belum terlalu terang tapi aku sudah sangat bersemangat menyambut matahari pagi. Aku sangat ingin berjalan-jalan dan menghirup udara segar diluar. Kucoba meraih kruk dan mulai berdiri. Tapi aku terjatuh seketika itu juga.

Rasa tertusuk yang dalam muncul diatas lututku, tepat di benjolan kanker  itu. Rasa sakit kadang memang muncul, tapi masih bisa kutahan dan tidak pernah sesakit ini. Ini…sangat sangat menyakitkan. Rasanya seperti sebuah paku ditanamkan berkali-kali dipahaku. Aku tak dapat menahan rasa sakitnya. Hanya sedetik aku bertahan, detik berikutnya teriakan keras keluar dari mulutku. Berharap dengan berteriak rasa nyeri itu akan berkurang. Alih-alih berkurang, rasa sakitnya semakin menjalar keseluruh kakiku, membuatku berteriak semakin keras. Entah baru berapa detik rasa nyeri itu muncul, tapi aku seperti merasa ini sudah berjam-jam. Ya Tuhan tolong, ini sakit sekali. Tolong aku, Tuhan. Tolong aku, siapapun. Aku hanya mampu merintih dalam hati diiringi tetesan air mata, berharap ada yang datang menolong mengurangi rasa sakit ini.

Waktu sudah terasa sangat lama saat aku melihat bayangan beberapa orang datang  terburu-buru. Panik, mungkin? Aku tak tahu, aku tidak dapat melihat wajah mereka dengan jelas. Aku bahkan tidak tahu siapa mereka. Mataku tidak bisa fokus dan sekelilingku tampak tertutup kabut. Aku bahkan tak dapat merasakan apapun yang mereka lakukan padaku, tak mendengar apa yang mereka katakan padaku. Rasa sakit ini seperti mematikan semua panca indraku. Makin lama aku semakin tak sadar apakah aku masih berteriak atau tidak, yang jelas rasa sakitnya semakin bertambah parah. Dalam beberapa saat kemudian, kabut itu mulai menghilang, berganti dengan kegelapan. Rasa nyeri itu juga perlahan tidak kurasakan saat kegelapan total menyergapku.

Aku terbangun. Apakah ini sudah pagi? Ohh..ya aku baru ingat. Aku sudah terbangun tadi pagi saat tiba-tiba aku kesakitan. Aku bergidik mengingatnya kembali. Tidak banyak yang kuingat setelah itu. Fokusku teralih saat pandanganku menemukan seseorang berdiri disamping ranjangku. Wajahnya campur aduk, sedih, khawatir, dan marah. Tapi pandangannya, aku tak pernah menemui satu orang pun yang menatapku seperti itu.

     “Dr.Raziel? ” Tanyaku kaget dan keheranan.

  “Kau sudah bangun? Apa yang kau rasakan sekarang? ” dr.Raziel membalikkan pertanyaanku.

     “Aku baik-baik saja seka–” jawabku cepat.

    “Stop lying, Rose.” Kata dr.Raziel dengan penakanan sambil membalikkan badan dan menyimpan kepalan tangannya disaku. Dia tidak membiarkanku membaca perasaannya, seakan tahu aku isa melakukannya.

   “Bisakah kau berhenti berpura-pura bahwa kau baik-baik saja? Bisakah kau berhenti mengatakan bahwa kau bisa menahannya? Bisakah kau..jujur?” pertanyaannya penuh nada kemuraman.

  “Maafkan aku,” hanya itu yang mampu kukatakan. Aku memang mengakui yang dikatakan dr.Raziel. Tapi itu karena aku harus baik-baik saja dan sudah terbiasa dengan rasa ‘sakit’.

    “Dengarkan aku, Rose. Aku berbeda dengan orang lain. Aku tidak menjauhi  ataupun membencimu. Aku benar-benar ingin kau sembuh. Kau bisa percaya  padaku. Jadi ijinkan aku. Jujurlah padaku agar aku tahu apa yang harus kulakukan untuk menyembuhkanmu.”dr.Raziel memohon padaku. Aku sama sekali tidak memikirkan kalimat terakhir dr.Raziel.

   “Maaf, maafkan aku. Aku tidak terbiasa menggantungkan diri pada orang lain. Aku minta maaf bersikap seperti ini. Tapi aku akan mencobanya sekarang,” jawabku kembali teringat kejadian tadi pagi. Tentu aku tidak mau merasakan sakit seperti itu lagi.

    “Berjanjilah, oke?” Dr.raziel kembali memastikan.

    “Aku berjanji, dok” kataku sambil mencoba tersenyum. Ini akan menjadi hal yang sulit. Dia membalas dengan tatapan curiga.

Tapi kemudian dia berkata, “kemarikan handphonemu.”

Aku keheranan tapi tetap  saja kuberikan padanya tanpa pikir panjang. Dia mulai mengetik sesuatu  disana. Sebuah nomor telepon.

     “Ini nomorku. Simpanlah dan kau boleh menghubungiku kapan saja,” tambahnya kemudian.

      “Aku harap kau siap untuk kemoterapi, aku akan memberitahu dalam waktu dekat. Jadi kau, ingat janjimu padaku, lakukan itu sebagai ucapan terimakasihmu padaku” dr.Raziel tersenyum tapi kulihat kekhawatiran dari matanya.

       “Terimakasih dokter. Aku akan melakukannnya” jawabku bersungguh-sungguh.

       “Bagus, aku harus pergi sekarang, ” katanya sebelum meninggalkanku.

Setelah dr.Raziel keluar dari ruang rawatku, Marry berganti masuk.

   “Hai Marry,” sapaku mendahuluinya. Dia sesaat hanya menatap kaget karena sapaanku. Wajahnya masih seperti biasa, seperti orang-orang lain, wajah orang yang tidak menyukaiku dan ingin menjauh.

       “Hello Nn.Rosalina, aku lihat anda sudah baik-baik saja?” tanya Marry padaku.

     “Yah..tentu,” jawabku sambil tersenyum. Dia membalas senyumku dengan terpaksa. Tapi kupikir ada sedikit keprihatinan dibaliknya.

    “Dr.Raziel mengganti obat pereda nyerinya. Aku kesini untuk menanyakanmu sesuatu. Kapan orangtuamu datang kesini? Dr.Raziel harus berbicara dengan orangtuamu.” Pertanyaannya itu sangat mengagetkanku.

    “Apa ini berkaitan dengan biaya perawatanku?” Tanyaku menduga-duga. Meskipun aku tahu itu tidak mungkin. Kekayaan orangtuaku tidak akan habis hanya karena pengobatanku.

  “Tidak, ini tentang pengobatanmu. Dokter ingin mendiskusikannya dengan orangtuamu.” Marry kini menjelaskan dengan wajah datar.

       “Oh…” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.

      “Hanya itu yang harus kukatakan. Panggil kami bila kau merasakan sesuatu” katanya sebelum pergi meninggalkanku.

Pikiranku kini dipenuhi tentang orangtuaku. Bagaimana caraku meminta mereka datang kesini. Mereka saja tak pernah mau berbicara padaku. Apakah aku boleh menelepon? Lebih dari itu, apa yang akan mereka katakan? Apakah mereka akan membiarkanku….mati? Kesedihan kembali menimpaku. Meskipun aku tahu mungkin itulah yang terbaik.

Aku memutuskan hanya mengirim pesan untuk Mom. Aku tak mau mengganggu kesibukannya dengan teleponku.


To: Eveline Luvigh

Date: 14 February 2017, 01.00 p.m

Mom, maaf mengganggu mom. Dokter bilang dokter ingin berbicara pada Mom dan Dad. Bisakah kalian datang kesini?

Thanks, Mom


Sent. Aku sedikit berlebihan dengan memohon. Aku tidak yakin mereka peduli padaku. Tapi aku masih berharap mereka akan mengunjungiku.

(to be continued…)

Contact me, Lily V’Aquila 🙂

Wattpad : @VAquilalily 

Twitter : @LilyVAquila 

Email : v.aquilalily@gmail.com 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s