Rose’s Aura

CHAPTER 2. HE’S DR.RAZIEL

          Sedikit berbeda dengan dokter dan perawat yang kutemui disini. Mereka terikat dengan tanggung jawab pekerjaan sehingga bersikap lebih baik padaku, meskipun dengan dipaksakan. Seperti perawat yang kulihat berjalan didepan kamarku dan mengetuk pintu sebelum masuk. Sudah saatnya melakukan pemeriksaan rutin.
        Umur perawat itu mungkin sekitar tiga puluhan dan dia tampak cantik. Kulitnya putih bersih, postur tubuhnya ideal, tidak terlalu tinggi, namun tubuhnya berisi dan melekuk indah. Wajahnya berbentuk oval, sebuah lesung pipit yang muncul di bawah bibirnya saat memaksakan senyum padaku. Lipstick berwarna orange menghiasi bibirnya untuk menampilkan kesan muda. Mata besarnya indah berwarna gelap. Sayangnya memancarkan suram keengganan yang dapat kubaca. Perasaan sebenarnya dia tidak senang saat memasuki ruang rawatku.

         “Selamat malam, Nn. Rosalina Luvigh. Saya perawat Marry akan memeriksa keadaan anda malam ini. Apa ada yang dikeluhkan?” Marry bertanya dengan sigap menandakan keprofesionalannya meskipun tanpa senyuman.

        “Hanya nyeri dipahaku saja belum hilang. Aku tidak lagi merasakan sesak” jawabku sambil tersenyum pada Marry.

       “Apa masih bisa ditahan?” lanjut Marry sambil memegang pergelangan tanganku dengan cekatan, menghitung denyut nadiku. Marry sama sekali tidak membalas senyumku dan rasanya dia ingin sekali segera menyelesaikan tugasnya disini.

      “Ya,masih.” Jawabku singkat mengerti keinginannya. Dan, ya, apa yang tidak dapat kutahan dalam hidupku ini?

      “Ada keluhan lain?” Marry kini bertanya datar.

      “Tidak” jawabku singkat terbawa suasana hatinya.

    Marry melanjutkan pemeriksaan vitalku mnggunakan tensi dan termometer. Gerakannya cepat tapi tidak kasar, sangat gentle. Wajahnya datar saat memeriksaku. Namun aku masih bisa merasakan suasana hatinya yang ingin segera ingin menjauh dariku. Semua orang selalu berefek seperti ini bila didekatku. Bisakah aku bertemu satu saja orang di dunia ini yang akan bersikap normal dan baik-baik saja padaku?

“Kau tahu apa yang harus kau lakukan bila sakitnya tidak kau tahan, bukan? Tekan tombol panggilan itu” kata Marry saat menuliskan hasil pemeriksaanku di buku yang dibawanya bersama peralatan pemeriksaan dan pergi tanpa berkata apa-apa lagi. 

      Aku sudah terbiasa diperlakukan seperti itu. Tidak perlu bagiku melakukan kesalahan sekecil apapun untuk membuat mereka menjauh. Tubuhku seperti membawa ‘sesuatu’ yang mempengaruhi orang-orang disekitarku untuk membenciku hanya dengan berada didekatku. Siapapun itu. 

      Tapi aku juga memiliki kelebihan. Aku bisa ‘membaca’ seseorang dengan sangat baik melalui matanya. Semua hati dan pikirannya seperti terpampang di pancaran matanya. Itulah kenapa aku bisa mengatakan dengan pasti sikap orang-orang yang tidak menyukaiku dengan sangat tepat. Mungkin kelebihanku ini muncul karena sikap orang-orang selalu tidak menjauhiku, membuatku lebih sensitif mengamati orang-orang. Atau mungkin juga kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Entahlah. 

      Terkadang aku sering iseng di mall. Bila ada salah satu toko yang cukup ramai dan para pegawainya sibuk menawarkan barang-barang dagangannya dengan senyum merekah, aku akan masuk ketoko itu dan berpura-pura tertarik pada barang dagangannya. Tentu saja otomatis pegawai yang tadinya sangat ramah disertai senyum bersahabat tiba-tiba berubah menjadi bersikap datar dan dingin. Bibirnya akan tertekuk ke bawah serta raut wajah berubah tidak suka seakan aku adalah musuhnya tapi dia tak bisa berbuat apa-apa karena aku adalah pelanggan. Kau tahu, itu menyenangkan sekali. Aku akan tertawa cekikikan keluar dari toko itu. Lucu sekali melihat perubahan wajahnya dalam sekejap karena kedatanganku. Ya, lelucon seperti itu sangat menghibur kesendirianku. Aku selalu tertawa bila mengingatnya.

          “Permisi,” sebuah suara mengagetkanku. Seorangl aki-laki berjas putih masuk diikuti oleh Marry.

         “Selamat malam Nn. Rosalina,” sapa laki-laki itu sambil tersenyum padaku. Tersenyum! Dia tersenyum padaku! Senyumnya sama sekali tidak dibuat-buat. Aku ternganga melihatnya.

        “Ini dr.Raziel, residen spesialis bedah, dia yang akan menanganimu dibawah dr.Allan,” kata Marry memperkenalkan. Pandanganku masih tidak lepas dari dokter itu.

      “Bisa aku memeriksamu?” Tanya dr.Raziel tetap tersenyum ramah.

      Aku terpana melihatnya. Bukan karena ketampanannya. Dia tampan kuakui, wajahnya kokoh dengan kulitnya putih bersih dan badannya tegap, tapi bukan itu yang membuatku terpana. Aku baru pertama kali ini bertemu dr.Raziel. Beberapa menit yang lalu baru saja aku memohon, dan sekarang permohonanku terkabul. Aku dapat melihat jelas kedalam matanya dalam sekejap. Tidak ada keterpaksaan sama sekali pada sikapnya. Tidak ada rasa keengganan terhadapku. Sangat berbeda dengan dokter dan perawat lain, apalagi orang-orang lain yang selama ini pernah kutemui.

“Rose? Boleh aku memanggilmu Rose? Kenapa tidak menjawab? Kau baik-baik saja?” Tanyadr.Raziel lagi sambil melambaikan tangannya didepan mataku.

“Ya, sure”jawabku cepat sambil tersipu, malu terpergok sedang menatapnya.

Dr.Raziel tertawa dan mulai memeriksaku. Aku memcoba mencuri kesempatan memandangnya lagi saat dr.Raziel sibuk memeriksa kedua kakiku, mencoba menelusuk ke dalam matanya, meyakinkanku kembali bahwa sikapnya memang sungguh-sungguh bukan hanya kepura-puraan. Tapi yang kutemukan sama saja, bahkan aku semakin melihat ada kehangatan dari matanya. Bagaimana bisa? Bagaimana dia tidak merasa ingin menjauhiku seperti orang lain?

          Kemudian aku teringat tadi dia memanggilku Rose. Aku ingin tahu kenapa.

        “Kenapa dokter memanggilku Rose?” aku bertanya saat dr.Raziel masihmemeriksa.

         “Kau tidak suka?” jawab dr.Raziel menoleh padaku.

        “Bukan,bukan..aku justru sangat senang. Tidak ada yang pernah memberikanku nama panggilan sebelumnya,” jawabku cepat.

      “Bagus kalau kau senang, aku hanya merasa….ingin saja memanggilmu begitu,”katanya kemudian melanjutkan pemeriksaan.

      “Dr.Allan sudah menjelaskan berbagai pengobatan yang harus kau jalani?” Tanya dr.Raziel setelah selesai memeriksa.

      “Iya, sudah” jawabku pada dr.Raziel.

      “Juga tentang operasinya?” dr.Raziel bertanya lagi. Nada suaranya masih saja sangat ramah dan hangat. 

      “Ya, itu juga sudah,” aku kini menjawab sambil tersenyum.

    “Baiklah kalau begitu, kita lihat perkembanganmu okey? Pastikan juga kau menghabiskan setiap makanmu, berat badanmu turun drastis karena kanker itu, jadi kau harus sebisa mungkin mencukupi gizimu,”sarannya padaku. 

    “Akan kucoba dok,” jawabku sambil mengalihkan pandanganku. Aku sudah lama kehilangan selera makanku.

    “Baiklah, cukup itu saja, sekarang berisirahatlah,” kata dr.Raziel kemudian berjalan keluar kamarku diikuti Marry.

    Sebelum melangkah keluar pintu, dr.Raziel berhenti sejenak dan berbalik lagi kearahku sambil tersenyum. 

    “Aku harap semoga kau cepat sembuh, Rose” kata dr.Raziel. Aku hanya menatapnya lagi sambil melongo tanpa menjawab. Dia segera berjalan keluar dari kamarku. Aku masih saja melongo keheranan menatap pintu dimana tadi dr.Raziel berdiri sebelum pergi. Apakah ini sungguh-sungguh?

     Sisa malam ini pikiranku terus terbayang dr.Raziel. Dokter itu sungguh peduli padaku. Aku akan sering bertemudengannya dan aku harap dia akan tetap terus seperti itu. Aku terlelap sambil berangan apakah dr.Raziel hanya sebuah mimpi. 

(to be continued…)

Contact me, Lily V’Aquila 🙂

Wattpad : @VAquilalily 

Twitter : @LilyVAquila 

Email : v.aquilalily@gmail.com 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s