Rose’s Aura

 

CHAPTER 2. FRIENDSHIP

Sebuah cahaya yang sangat menyilaukan tiba-tiba muncul didepanku. Butuh waktu beberapa saat sampai aku bisa membuka mataku. Kulihat sebuah ruang yang tidak kukenal tapi terasa familiar. Aku berdiri didepan pintu. Di pintu bercat putih itu tergantung papan tertulis “Baby Room”. Temboknya berwarna abu-abu pucat bergaya vintage. Ruangan itu sangat terang dengan dua jendela besar di dua sisi dinding. Tirainya berwarna putih menambah kesan cerah diruangan itu. Sofa kecil berwarna putih menghiasi pojok kamar. Disamping sofa terdapat box bayi besar yang juga berwarna putih. Diatasnya tergantung mainan yang berputar. Pada sisi lain sofa, terdapat sebuah lemari kecil yang pasti berisi perlengkapan bayi.

Aku melihat bayi kecil memakai baju berwarna pink terduduk dalam ayunan ditengah ruangan. Cantik sekali bayi itu. Seorang anak laki-laki duduk menemani disamping ayunan. Usianya mungkin sekitar 9 tahun. Dia memainkan boneka-boneka kecil didepan bayi cantik itu. Bayi itu tertawa, suara tawanya renyah, manis sekali.

Tiba-tiba datang dua laki-laki dewasa masuk dengan tergesa-gesa. Pakaiannya serba hitam dengan jaket kulit dan topi hitam. Salah satu lelaki itu membawa besi panjang di tangannya. Laki-laki lain membawa golok besar yang diacung-acungkan. Wajah mereka sangat menyeramkann. Tapi anak laki-laki tadi justru berdiri melindungi bayi kecil di dalam ayunan. Aku segera melangkahkan kakiku mendekati anak-anak itu. Tapi terlambat. Laki-laki yang membawa besi sudah lebih dulu memukul kepala si bocah kecil. Anak itu tersungkur tidak sadarkan diri. Darah segar mengalir dari kepalanya. Aku hanya bisa berteriak ketakutan melihat kejadian itu. Para penjahat itu tidak terganggu sama sekali denganku, seperti tidak menyadari kehadiranku. Anak malang itu segera diangkat oleh kawannnya. Aku sempat mendengar anak itu mengatakan sesuatu sambil menatap bayi yang masih didalam ayunan.

     “Rose..” anak itu mengatakan dengan suara lirih.

Sedangkan laki-laki pertama tadi kini berdiri didepan si bayi kecil. Dia mengangkat lagi besi panjangnya, bersiap memukul bayi mungil itu. Oh tidak!

     “Jangaaan…!” aku berteriak sekuat tenaga sampai urat nadiku rasanya hampir putus. Dan aku terengah-engah bangun dari tidurku.

Kupegang dadaku dan terasa degup jantungku berdetak kencang. Hanya mimpi. Semua hanya mimpi. Aku mencoba menenangkan diriku. Aku harus menenangkan diriku karena aku mulai merasa nafasku sesak. Kuambil selang oksigen diatas tempat tidurku dan kualirkan oksigen untuk mengatasi sesakku. Aku duduk bersandar sambil memejamkan mata dan mengatur nafasku. Mimpi mengerikan macam apa itu tadi.

Kulirik ke jendela dan tampak diluar sudah terang. Jam sudah menunjukkan pukul 06.30. Sebentar lagi pasti perawat akan datang memeriksaku. Tidak lama kemudian Susan masuk ke kamarku. Dia salah satu perawat di bangsal ini.

     “Kau sesak nafas lagi?” Tanya Susan sedikit kaget.

     “Ya, tapi tidak apa-apa, sudah membaik,” jawabku meyakinkan.

Susan tidak menjawab dan hanya mengangguk. Dia melanjutkan pemeriksaan dan segera pergi setelah selesai. Nafasku suadah mulai teratur jadi kulepas selang oksigenku. Aku turun dari ranjang dan berpegangan tembok menuju kamar mandi.

Sepanjang hari ini aku menikmati kesendirian tanpa memikirkan mimpi semalam. Sendiri dan membosankan. Aku harap bisa segera bertemu lagi dengan dr.Raziel. Tapi hingga sore dia tidak juga kunjung datang. Apakah dia tidak datang hari ini? Tepat saat aku berpikir seperti itu seseorang mengetok pintu dan masuk ke kamarku.

     “Selamat malam, Rose. Maaf hari ini aku terlambat datang. Banyak sekali operasi hari ini, melelahkan sekali” kata dr.Raziel sedikit mengeluh. Dia masuk sambil diikuti oleh Marry. Aku sedikit heran dia masuk dan tiba-tiba berbicara padaku seolah aku adalah teman lamanya.

     “Eh..ya, tak apa” kataku sedikit tergagap. Aku harus menjawab bagaimana?

  “Haha..bagaimana keadaanmu hari ini?” dr. Raziel bertanya sambil tertawa mendengar jawabanku yang tergagap. Oh my God, how can he’s so friendly in this short of time?

   “Seperti biasa, terkadang nyeri, aku masih kesulitan berjalan. Lebih dari itu aku baik-baik saja, mungkin?” jawabku sekarang dengan lebih tenang.

    “Mungkin?” dia bertanya kembali sambil melihat kondisi kakiku.

   “Well, tidak banyak yang bisa dilakukan oleh orang sakit dan berkaki satu” kataku merendahkan diri sendiri.

  “Orangtuamu masih belum kesini?” tanya dr.Raziel tidak tanggung-tanggung. Aku menghela nafas panjang mendengar pertanyaan dr.Raziel. Kedatangan pembantuku setiap dua hari sekali untuk mengantarkan baju bersih pasti sudah menjadi gossip diantara para perawat dan didengar para dokter karena Mbak Darmi lebih sering datang daripada Mom dan Daddy. Para perawat pasti berpikir bahwa orangtuaku pun juga tidak menginginkanku.

   “Hhmm.mereka sibuk bekerja mencari uang untuk pengobatanku,” aku berdalih membela mereka. Meskipun Mom dan Daddy tidak menyukaiku, mereka selama ini tetap merawatku bahkan sekarang membiayai pengobatanku yang sangat mahal.

Setelah selesai melakukan pemeriksaan dr.Raziel menatapku sambil tersenyum. Senyumnya hangat, menenangan sekali, tidak pernah kusangka ada seseorang yang mau memberikanku senyum sehangat itu.

     “Hey Rose, kau tahu? penyakitmu ini akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk sembuh, dan kupikir kita akan sering bertemu, apa kau percaya padaku?” kata-kata dr.Raziel tiba-tiba membingungkanku.

     “Ehmm ya..but what do you mean? Of course I trust my doctor. Aku harus percaya pada siapa kalau bukan pada dokterku?” kataku tak mengerti maksud dr.Raziel.

      “I’m glad to hear that,” kata dr.Raziel tersenyum.

    “Tapi bukan hanya itu maksudku. Maksudku percaya sebagai teman. Aku masih muda jadi kita bisa berteman. Seharusnya kau punya teman disini” perkataan dr.Raziel kini mengagetkanku. Tapi aku tidak menjawabnya. Aku tidak tahu. Bisakah aku percaya begitu saja? Bagaimana bila saat aku mempercayainya tiba-tiba dia berubah sikap menjadi seperti orang lain?

    “Ehm..Marry, kau bisa pergi duluan, pemeriksanku sudah selesai, aku ingin bicara sebentar dengan Rose” kata dr.Raziel pada Marry. Marry hanya tersenyum pada dr.Raziel kemudian pergi tanpa mengucapkan apa-apa.

     “Kau tidak menjawabku, Rose?” kata dr.Raziel kemudian setelah Marry pergi.

   “I don’t know, aku punya kehidupan yang sangat berbeda dengan orang lain. Doker pasti sudah tahu para perawat sangat tidak nyaman didekatku tanpa alasan. Semua orang bersikap padaku seperti itu. Kenapa dokter tidak merasa seperti itu dan mau berteman denganku? Bagaimana kalau nanti tiba-tiba dokter berubah? Aku tidak pernah berteman atau menyukai siapapun,” aku mengutarakan keraguanku.

   “Apa aku terlihat merasa tidak nyaman dari awal? Apa kau melihat kepalsuan dari sikapku?” kata dr.Raziel mematahkan keraguanku. Dia terus saja berbicara sambil tersenyum padaku. Senyumnya membuatku merasa dekat dengannya.

   “Tidak,” aku berkata jujur sesuai apa yang kurasakan.

   “Kalau begitu bisakah kita berteman? Kau bisa percaya padaku kalau aku tidak akan seperti orang lain, Rose” kali ini senyum dr.Raziel semakin lebar untuk meyakinkanku. Tangannya diulurkan padaku.

    “Okey” kataku sambil menyalami tangannya, tanda kami mulai berteman.

    “Sekarang, maukah kau bercerita tentang orangtuamu. Aku harus jujur, banyak orang diluar yang membicarakanmu, tapi bukan karena penasaran aku menanyakannya. Kalau apa yang mereka bicarakan benar, aku ingin kau memperbaiki hubunganmu Rose. Kau sangat butuh dukungan orangtuamu. Hanya karena itu aku ingin membicarakannya,” kata dr.Raziel mulai serius.

    “Terimakasih karena peduli padaku,” aku tersenyum menghargai kepeduliannya. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana bercerita.

Dr.Raziel tidak memaksaku langsung bercerita. Dia mendekatiku dengan sangat perlahan sehingga mudah menceritakannya. Dia mulai dengan bertanya hal-hal kecil tentang orangtuaku hingga akhirnya aku bisa menceeritakan semuanya. Dr.Raziel membuatku bisa bercerita dengan sangat mengalir. Senyum dr.Raziel menghilang saat mendengarkan ceritaku. Aku menggambarkan Mom dan Daddy membenciku.

    “Rose, aku percaya bahwa tidak ada orangtua yang membenci anaknya tanpa alasan—”

    “Tidak dengan orangtuaku” kata-kata dr.Raziel segera kupotong, tak ingin mendengar  pembelaannya pada orantuaku. Dari dalam matanya kulihat perasaan yang bercampur aduk. Tapi semua mengarah pada kesedihan dan rasa bersalah. Kenapa seperti itu?

  “Aku hanya terkejut mereka memperlakukanmu sangat berbeda, Rose. Tapi aku sepertinya harus membantumu dan bicara perlahan pada mereka. Bolehkah aku?” dr.Raziel meminta ijinku untuk mencampuri permasalahanku. Ada suatu keanehan yang terjadi dalam tatapan dr.Raziel. Aku tidak bisa menjelaskan apa itu.

  “Aku tidak yakin Mom dan Daddy akan mendengarkan kata-kata dokter,” kataku meragukannya.

  “Nanti kita lihat, Rose. Sekarang sebaiknya kau beristirahat. Tersenyumlah lebih banyak. Ini kuberikan teman kecil untukmu” kata dr.Raziel sambil mengeluarkan sebuah boneka kelinci dari saku jasnya.

Lagi-lagi aku dibuat kaget oleh dr. Raziel. Aku ternganga saat dr.Raziel memberikannya padaku.

     “Kenapa diam saja? Kau tidak suka?” dia bertanya-tanya.

   “Suka, tentu saja suka!” jawabku dan dengan cepat mengambil boneka itu dari tangannya.

   “Aku hanya sedikit tidak percaya! Belum pernah ada yang memberiku hadiah, ini pertama kalinya dan aku sangat senang!” kataku sambil terus menatap boneka itu dengan mata berbinar. Senyum lebar merekah dari Bibirku.

    “Aku akan menamainya Mr. Rebbito” tambahku lagi. Saat ini aku pasti tampak sepeti ank kecil yang mendapatkan permen kesukaannya.

    “Haha aku tidak tahu kau akan sesenang ini. Baiklah, Mr.Rebbito. Kau jaga temanku ini dengan baik, oke? Dia sangat kesepian dan aku tidak bisa menemaninya,” katanya padanya boneka yang baru saja diberikannya dengan tersenyum.

  “Tentu saja, serahkan padaku,” jawab boneka yang ada ditanganku sambil kuanggukkan kepalanya. Aku tertawa mendengar suaraku sendiri seperti itu.

     “Istirahatlah, dan cepatlah sembuh, oke? Aku akan datang lagi besok. Selamat malam, Rose” kata dr.Raziel kemudian pergi meninggalkan ruanganku. Senyumku sedikit memudar mendengar perkataan terakhirnya.

Cepat sembuh? Bisakah? Aku tidak yakin akan bertemu dengan ulangtahunku yang ke 21 tahun.

Malam ini tidurku tidak sendiri karena ada Mr.Rebbito dipelukanku. Meskipun ukuran Mr.Rebbito cukup kecil, hanya sebesar genggaman tanganku, dia sangat lembut dan wajahnya begitu manis. Aku tersenyum menatap Mr.Rebbito sambil mengingat hari ini. Hari ini terasa seperti mimpi. Aku jadi tidak begitu menyesal berada disini. Bisa mengenal dan berteman dengan dr.Raziel adalah sebuah anugerah dalam hidupku.

(to be continued…)

Contact me, Lily V’Aquila 🙂

Wattpad : @VAquilalily 

Twitter : @LilyVAquila 

Email : v.aquilalily@gmail.com 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s